Jumat, 23 Desember 2016

CERPEN ISLAMI II - Rinduku Pahit







Assalamu'alaikum readers !! Alhamdulillah ya sudah memasuki libur panjang, kita awali hari libur panjang ini dengan Basmallah - Hamdallah - kemudian baca cerpen yuk :)
jangan lupa juga kunjungi  Fanspageku di :  https://www.facebook.com/CerpenAnsDina/

sip, seperti biasa. tanpa banyak basa - basi mari kita baca bersama!!







RINDUKU PAHIT

                Pagi ini aku terbangun dalam sayup – sayup suara adzan, melamun dalam gigil. Entahlah, ada yang mengganggu fikiranku akhir – akhir ini. Rasanya seperti ada suatu tempat yang harus ku kunjungi.
Aku tertatih dan segera menyegarkan badanku yang telah beristirahat semalaman ditempat yang amat dingin, dan tak layak  ini, tanpa ditemani bantal ataupun selimut. Kolong jembatan. Aku sudah terbiasa tidur disini, seakan – akan udara dingin telah bersahabat dengan tubuhku ini. Aku pun berjalan menyusuri jalan beraspal yang masih sepi. Samar – samar ku mendengar suara Ustad itu lagi yang rutin berceramah setiap shubuh ataupun menjelang maghrib disebuah musholla sederhana, orang – orang memanggilnya ‘Ustad Mughni’ tak jarang ia pun sering mengajakku untuk mengikuti pengajian rutinnya, tetapi se-sering kali pun aku menolak. Ya.. karena, siapalah aku? Aku hanyalah remaja brengsek yang tak tahu diri, seorang Karel yang selalu mencoba copet sana – sini. Ada rasa menyesal dalam hatiku, kenapa diumurku yang baru 16 tahun ini bisa terjerumus kedalam dunia yang gelap, kelam dan menyeramkan. Seakan – akan hidupku hanya di-abdikan kepada Bos Jarot, si Preman sangar Tanah Abang, Jakarta.
                Pengajian shubuh ini terlihat lebih cepat dari sebelumnya. Orang – orang shalih itu telah pergi meninggalkan masjid, tinggal-lah Ustad Mughni seorang diri dibalkon masjid mencari sendalnya.
“Hei nak, boleh tolong ambilkan sendal itu?” seketika suara lembut Ustad mughni mengagetkanku. Ternyata sandalnya terlempar jauh dari anak  tangga. Tanpa basa – basi, segera saja ku ambil sandal jepit sederhana itu lalu aku berikan pada Ustad Mughni dan berniat ingin cepat pergi juga, karena takut diceramahi.
“Terimakasih.” ucapnya, meskipun aku tak melihatnya, tetapi bisa ku rasakan bahwa ia tersenyum. Begitulah, Ustad Mughni memang terkenal sangat ramah dan baik sekali.
Sesegera mungkin ku balikkan badan dan segera beranjak pergi. Namun lagi – lagi Ustad Mughni mengehntikan langkahku.
“Kemarilah, kita mengobrol .. jangan terburu – buru begitu,”  Kenapa seorang Ustad yang baik hati ini inginkan mengobrol denganku, seorang remaja kotor?
Ada apa dengan diri ini, Kenapa aku tak bisa menolak ajakan itu?
“Sudah sholat?” tanya beliau dengan lembut dan mengajakku masuk kedalam masjid. Aku hanya tertunduk dan menggelengkan kepala perlahan. “waktu shubuh sudah mau habis, cepat ambil air wudhu, sholatlah dahulu .. baru kita mengobrol” . aku yang lupa tata cara sholat ini pun hanya terdiam mematung. “Kenapa diam saja, nak?” . “Sa .. Saya lupa car … caranya sholat, ustad” dengan amat gugup, akhirnya ku berani untuk jujur. Sang ustad hanya terkekeh. “Biar ku ajarkan” beliau merangkul pundakku dan mengajakku ke tempat wudhu.
                Dengan sangat sabar, ia mengajariku berwudhu, sholat, hingga adab berdo’a. pagi ini terasa sejuk sekali.
“Bagaimana hatimu sekarang?” tanya beliau duduk dihadapanku. Aku hanya tersenyum dan lagi – lagi menunduk.
“Nak, siapa namamu?” . “Karel” jawabku pelan.
“pas sekali dengan tampangmu” ustad mughni tersenyum lebar, mendengar itu akupun tersenyum.
“siapa ibu bapakmu? Kau tinggal dimana?” rasanya bingung untuk ku jawab, tetapi apa boleh buat? Jujur saja. “saya tinggal dijakarta tanpa orangtua, mereka ada dikampung” . seperti telah mengetahui, ustad mughni tak menunjukan ekspresi apapun. “Bagaimana caranya bisa sampai kesini?”
Aku pun mulai menceritakan perjalananku dari Cianjur sampai ke Jakarta.
                Ya.. dulu aku memanglah seorang anak baik – baik, tak jarang aku mendapat juara kelas, pengajian ini itu tak pernah ku tinggalkan, saat itu. tentu saja orangtuaku bangga, dan setelah kelulusan SD, orangtuaku menyuruhku untuk ikut bersama kakakku ke jar=karta, dengan harapan mendapat pendidikan yang lebih baik dikota besar ini. Tentu tak mudah bagiku hidup bersama seorang kakak yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, apalagi dia sangat keras kepala. Sampai suatu hari kami bertengkar hebat hanya karena masalah sepele, karena benar – benar muak aku pun pergi meninggalkan rumah kakak yang saat itu menjadi rumahku juga. Disitulah titik balik ku menjadi seorang pecundang, bertemu dengan Pereman bernama Jarot. Karena ku fikir mengambil hak orang itu mudah dan sangat menguntungkan, ditambah lagi dengan tampangku yang cukup tampan ini tak akan ada yang mengira bahwa aku ini adlaah si pencuri.
                “Apa kau tidak rindu dengan kedua orangtua mu, kakakmu?” tanya ustad setelah mencerna cerita panjangku.
“Tentu rindu, ustad”
“Pulanglah, sebelum kau terlena dan hancur dibuat oleh duniamu saat ini”
“Sa..saya malu untuk pulang, keluargaku pasti akan sangat marah padaku .. dan pastilah mengusirku”
“Tidak usah pesimis begitu, jika benar kau diusir, kembalilah kemari dan mari ustad akan menitipkanmu dipondok pesantren” .  mendengarnya aku hanya terdiam.
“Bagaimanapun mereka yang telah mengurusimu, orangtua menyayangimu dengan tulus, begitu pun dengan kakakmu .. pastilah pintu maaf terbuka lebar untukmu, nak Karel”
Aku tertegun mendengarnya, ucapan ustad itu ada benarnya juga.
                Akhirnya, pagi itu juga aku pulang ke rumah kakak. Namun tiada siapa – siapa disana, kufikir kakakku telah pindah rumah, ini pun memaksaku untuk pulang ke cianjur saja. Dengan bermodalkan ongkos yang diberi oleh ustad mughni, kurasa ini cukup.
Rasanya sebak rindu tak dapat ku tahan lagi. Langkahku pun semakin sigap dan cepat, tak jarang pula aku merengek pada sopir bus untuk menambah kecepatan laju busnya, namun yang kudapat hanyalah bentakan. “Mau cepat mati kau, ha?!”  Hahah .. aku tersenyum saja mendengarkan makian itu.
                Setelah perjalanan panjang, akhirnya aku pun sampai dikampung halamanku ini. Orang – orang memandangiku heran. Terkadang ada juga yang menyapa “Jang Karel ini teh?”  . “Ya Alloh, kemana aja atuh kasep? Pangling, meni kasep pisan”
Ternyata, baru 4 tahun ku meninggalkan kampung ini, sudah banyak yang berubah. Mungkin hanya rumahku saja yang tak berubah, tetap sederhana dan nampak bersih.
Pintu rumahku terbuka, banyak orang didalamnya. Memangnya ada apa?
“Permisi” aku mencoba menerobos kerumunan manusia yang memadati rumahku ini.
Segera saja ku cari ibu bapak ku. Kerumunan manusia itu memapahku menuju kamar. Kudapati disana ada kedua orangtuaku, juga kakakku. Mereka terlihat amat kaget atas kehadiranku.
Kakak dan ayahku mengomel dan berbicara entah apa itu, aku hanya terfokus pada ibuku yang tengah terbaring lemah menatapku dengan senyumannya. Segera saja ku peluk wanita tercinta itu dan menangis didekapnanya. Tangisanpun pecah, kedua orang tuaku dan kakak ku tak dapat membendung airmatanya.
Aku pun berlutut memeluk kaki bapakku dan memohon maaf, kulakukan juga pada kakakku. Lalu pandanganku beralih lagi pada ibu.
“Kami merindukanmu, nak”
Tiada kata lagi yang mampu ku ucap selain kata ‘ maaf’ .  “Sudahlah, tak apa .. terimakasih sudah kembali” ujar ibuku lirih, menahan sakit yang ia derita.
                Mereka pun mulai bertanya tentangku di Jakarta, tanpa pamrih aku pun menceritakan segala sesuatunya dengan jujur. Entah reaksi apa yang akan mereka tunjukan, yang penting ku berkata jujur. Habislah cerita, tak ada yang terucap. Hanya sisa – sisa isak tangis yang jelas terdengar. Tatap kami tertuju pada ibu yang tengah memandangi langit – lagit kamar yang tak terurus. Ini semua salahku ! ibu sakit seperti ini karena terus – menerus memikirkanku. Aku sangat menyesal. Aku kemabli terdiam dalam lamunku, tatapku kosong penuh penyesalan.
Seketika terdengar suara teriakan histeris dari kakakku . “ibuuu…” sontak aku pun kaget mendengarnya, segera ku alihkan pandangan pada ibuku. Tidak terjadi apa – apa, ibuku tetap cantik dengan senyum kecilnya, hanya saja matanya tertutup. Ia tertidur. Fikirku.
                Tetapi nyatanya tidak, aku sadar sekarang. Ibuku telah pergi, dan kepulangankulah yang mengantarkan kepulangan satu wanita yang tengah merindu itu .



Alhamdulillah, terimakasih telah membaca .. semoga bermanfaat :)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar