Assalamu'alaikum readers !! Alhamdulillah ya sudah memasuki libur panjang, kita awali hari libur panjang ini dengan Basmallah - Hamdallah - kemudian baca cerpen yuk :)
jangan lupa juga kunjungi Fanspageku di : https://www.facebook.com/CerpenAnsDina/
sip, seperti biasa. tanpa banyak basa - basi mari kita baca bersama!!
RINDUKU
PAHIT
Pagi
ini aku terbangun dalam sayup – sayup suara adzan, melamun dalam gigil.
Entahlah, ada yang mengganggu fikiranku akhir – akhir ini. Rasanya seperti ada
suatu tempat yang harus ku kunjungi.
Aku tertatih dan segera menyegarkan
badanku yang telah beristirahat semalaman ditempat yang amat dingin, dan tak
layak ini, tanpa ditemani bantal ataupun
selimut. Kolong jembatan. Aku sudah terbiasa tidur disini, seakan – akan udara
dingin telah bersahabat dengan tubuhku ini. Aku pun berjalan menyusuri jalan
beraspal yang masih sepi. Samar – samar ku mendengar suara Ustad itu lagi yang
rutin berceramah setiap shubuh ataupun menjelang maghrib disebuah musholla
sederhana, orang – orang memanggilnya ‘Ustad Mughni’ tak jarang ia pun sering
mengajakku untuk mengikuti pengajian rutinnya, tetapi se-sering kali pun aku
menolak. Ya.. karena, siapalah aku? Aku hanyalah remaja brengsek yang tak tahu
diri, seorang Karel yang selalu mencoba copet sana – sini. Ada rasa menyesal
dalam hatiku, kenapa diumurku yang baru 16 tahun ini bisa terjerumus kedalam
dunia yang gelap, kelam dan menyeramkan. Seakan – akan hidupku hanya di-abdikan
kepada Bos Jarot, si Preman sangar Tanah Abang, Jakarta.
Pengajian
shubuh ini terlihat lebih cepat dari sebelumnya. Orang – orang shalih itu telah
pergi meninggalkan masjid, tinggal-lah Ustad Mughni seorang diri dibalkon
masjid mencari sendalnya.
“Hei nak, boleh tolong ambilkan
sendal itu?” seketika suara lembut Ustad mughni mengagetkanku. Ternyata
sandalnya terlempar jauh dari anak tangga.
Tanpa basa – basi, segera saja ku ambil sandal jepit sederhana itu lalu aku
berikan pada Ustad Mughni dan berniat ingin cepat pergi juga, karena takut
diceramahi.
“Terimakasih.” ucapnya, meskipun
aku tak melihatnya, tetapi bisa ku rasakan bahwa ia tersenyum. Begitulah, Ustad
Mughni memang terkenal sangat ramah dan baik sekali.
Sesegera mungkin ku balikkan badan
dan segera beranjak pergi. Namun lagi – lagi Ustad Mughni mengehntikan
langkahku.
“Kemarilah, kita mengobrol ..
jangan terburu – buru begitu,” Kenapa
seorang Ustad yang baik hati ini inginkan mengobrol denganku, seorang remaja
kotor?
Ada apa dengan diri ini, Kenapa aku
tak bisa menolak ajakan itu?
“Sudah sholat?” tanya beliau dengan
lembut dan mengajakku masuk kedalam masjid. Aku hanya tertunduk dan
menggelengkan kepala perlahan. “waktu shubuh sudah mau habis, cepat ambil air
wudhu, sholatlah dahulu .. baru kita mengobrol” . aku yang lupa tata cara
sholat ini pun hanya terdiam mematung. “Kenapa diam saja, nak?” . “Sa .. Saya
lupa car … caranya sholat, ustad” dengan amat gugup, akhirnya ku berani untuk
jujur. Sang ustad hanya terkekeh. “Biar ku ajarkan” beliau merangkul pundakku
dan mengajakku ke tempat wudhu.
Dengan
sangat sabar, ia mengajariku berwudhu, sholat, hingga adab berdo’a. pagi ini
terasa sejuk sekali.
“Bagaimana hatimu sekarang?” tanya
beliau duduk dihadapanku. Aku hanya tersenyum dan lagi – lagi menunduk.
“Nak, siapa namamu?” . “Karel”
jawabku pelan.
“pas sekali dengan tampangmu” ustad
mughni tersenyum lebar, mendengar itu akupun tersenyum.
“siapa ibu bapakmu? Kau tinggal
dimana?” rasanya bingung untuk ku jawab, tetapi apa boleh buat? Jujur saja.
“saya tinggal dijakarta tanpa orangtua, mereka ada dikampung” . seperti telah
mengetahui, ustad mughni tak menunjukan ekspresi apapun. “Bagaimana caranya
bisa sampai kesini?”
Aku pun mulai menceritakan
perjalananku dari Cianjur sampai ke Jakarta.
Ya..
dulu aku memanglah seorang anak baik – baik, tak jarang aku mendapat juara
kelas, pengajian ini itu tak pernah ku tinggalkan, saat itu. tentu saja
orangtuaku bangga, dan setelah kelulusan SD, orangtuaku menyuruhku untuk ikut
bersama kakakku ke jar=karta, dengan harapan mendapat pendidikan yang lebih
baik dikota besar ini. Tentu tak mudah bagiku hidup bersama seorang kakak yang
selalu sibuk dengan pekerjaannya, apalagi dia sangat keras kepala. Sampai suatu
hari kami bertengkar hebat hanya karena masalah sepele, karena benar – benar
muak aku pun pergi meninggalkan rumah kakak yang saat itu menjadi rumahku juga.
Disitulah titik balik ku menjadi seorang pecundang, bertemu dengan Pereman
bernama Jarot. Karena ku fikir mengambil hak orang itu mudah dan sangat
menguntungkan, ditambah lagi dengan tampangku yang cukup tampan ini tak akan
ada yang mengira bahwa aku ini adlaah si pencuri.
“Apa
kau tidak rindu dengan kedua orangtua mu, kakakmu?” tanya ustad setelah
mencerna cerita panjangku.
“Tentu rindu, ustad”
“Pulanglah, sebelum kau terlena dan
hancur dibuat oleh duniamu saat ini”
“Sa..saya malu untuk pulang,
keluargaku pasti akan sangat marah padaku .. dan pastilah mengusirku”
“Tidak usah pesimis begitu, jika
benar kau diusir, kembalilah kemari dan mari ustad akan menitipkanmu dipondok
pesantren” . mendengarnya aku hanya
terdiam.
“Bagaimanapun mereka yang telah
mengurusimu, orangtua menyayangimu dengan tulus, begitu pun dengan kakakmu ..
pastilah pintu maaf terbuka lebar untukmu, nak Karel”
Aku tertegun mendengarnya, ucapan
ustad itu ada benarnya juga.
Akhirnya,
pagi itu juga aku pulang ke rumah kakak. Namun tiada siapa – siapa disana,
kufikir kakakku telah pindah rumah, ini pun memaksaku untuk pulang ke cianjur
saja. Dengan bermodalkan ongkos yang diberi oleh ustad mughni, kurasa ini
cukup.
Rasanya sebak rindu tak dapat ku
tahan lagi. Langkahku pun semakin sigap dan cepat, tak jarang pula aku merengek
pada sopir bus untuk menambah kecepatan laju busnya, namun yang kudapat
hanyalah bentakan. “Mau cepat mati kau, ha?!”
Hahah .. aku tersenyum saja mendengarkan makian itu.
Setelah
perjalanan panjang, akhirnya aku pun sampai dikampung halamanku ini. Orang – orang
memandangiku heran. Terkadang ada juga yang menyapa “Jang Karel ini teh?” . “Ya Alloh, kemana aja atuh kasep? Pangling,
meni kasep pisan”
Ternyata, baru 4 tahun ku
meninggalkan kampung ini, sudah banyak yang berubah. Mungkin hanya rumahku saja
yang tak berubah, tetap sederhana dan nampak bersih.
Pintu rumahku terbuka, banyak orang
didalamnya. Memangnya ada apa?
“Permisi” aku mencoba menerobos
kerumunan manusia yang memadati rumahku ini.
Segera saja ku cari ibu bapak ku.
Kerumunan manusia itu memapahku menuju kamar. Kudapati disana ada kedua
orangtuaku, juga kakakku. Mereka terlihat amat kaget atas kehadiranku.
Kakak dan ayahku mengomel dan
berbicara entah apa itu, aku hanya terfokus pada ibuku yang tengah terbaring
lemah menatapku dengan senyumannya. Segera saja ku peluk wanita tercinta itu
dan menangis didekapnanya. Tangisanpun pecah, kedua orang tuaku dan kakak ku
tak dapat membendung airmatanya.
Aku pun berlutut memeluk kaki
bapakku dan memohon maaf, kulakukan juga pada kakakku. Lalu pandanganku beralih
lagi pada ibu.
“Kami merindukanmu, nak”
Tiada kata lagi yang mampu ku ucap
selain kata ‘ maaf’ . “Sudahlah, tak apa
.. terimakasih sudah kembali” ujar ibuku lirih, menahan sakit yang ia derita.
Mereka
pun mulai bertanya tentangku di Jakarta, tanpa pamrih aku pun menceritakan
segala sesuatunya dengan jujur. Entah reaksi apa yang akan mereka tunjukan,
yang penting ku berkata jujur. Habislah cerita, tak ada yang terucap. Hanya
sisa – sisa isak tangis yang jelas terdengar. Tatap kami tertuju pada ibu yang
tengah memandangi langit – lagit kamar yang tak terurus. Ini semua salahku !
ibu sakit seperti ini karena terus – menerus memikirkanku. Aku sangat menyesal.
Aku kemabli terdiam dalam lamunku, tatapku kosong penuh penyesalan.
Seketika terdengar suara teriakan
histeris dari kakakku . “ibuuu…” sontak aku pun kaget mendengarnya, segera ku
alihkan pandangan pada ibuku. Tidak terjadi apa – apa, ibuku tetap cantik
dengan senyum kecilnya, hanya saja matanya tertutup. Ia tertidur. Fikirku.
Tetapi
nyatanya tidak, aku sadar sekarang. Ibuku telah pergi, dan kepulangankulah yang
mengantarkan kepulangan satu wanita yang tengah merindu itu .
Alhamdulillah, terimakasih telah membaca .. semoga bermanfaat :)

