Jumat, 23 Desember 2016

CERPEN ISLAMI II - Rinduku Pahit







Assalamu'alaikum readers !! Alhamdulillah ya sudah memasuki libur panjang, kita awali hari libur panjang ini dengan Basmallah - Hamdallah - kemudian baca cerpen yuk :)
jangan lupa juga kunjungi  Fanspageku di :  https://www.facebook.com/CerpenAnsDina/

sip, seperti biasa. tanpa banyak basa - basi mari kita baca bersama!!







RINDUKU PAHIT

                Pagi ini aku terbangun dalam sayup – sayup suara adzan, melamun dalam gigil. Entahlah, ada yang mengganggu fikiranku akhir – akhir ini. Rasanya seperti ada suatu tempat yang harus ku kunjungi.
Aku tertatih dan segera menyegarkan badanku yang telah beristirahat semalaman ditempat yang amat dingin, dan tak layak  ini, tanpa ditemani bantal ataupun selimut. Kolong jembatan. Aku sudah terbiasa tidur disini, seakan – akan udara dingin telah bersahabat dengan tubuhku ini. Aku pun berjalan menyusuri jalan beraspal yang masih sepi. Samar – samar ku mendengar suara Ustad itu lagi yang rutin berceramah setiap shubuh ataupun menjelang maghrib disebuah musholla sederhana, orang – orang memanggilnya ‘Ustad Mughni’ tak jarang ia pun sering mengajakku untuk mengikuti pengajian rutinnya, tetapi se-sering kali pun aku menolak. Ya.. karena, siapalah aku? Aku hanyalah remaja brengsek yang tak tahu diri, seorang Karel yang selalu mencoba copet sana – sini. Ada rasa menyesal dalam hatiku, kenapa diumurku yang baru 16 tahun ini bisa terjerumus kedalam dunia yang gelap, kelam dan menyeramkan. Seakan – akan hidupku hanya di-abdikan kepada Bos Jarot, si Preman sangar Tanah Abang, Jakarta.
                Pengajian shubuh ini terlihat lebih cepat dari sebelumnya. Orang – orang shalih itu telah pergi meninggalkan masjid, tinggal-lah Ustad Mughni seorang diri dibalkon masjid mencari sendalnya.
“Hei nak, boleh tolong ambilkan sendal itu?” seketika suara lembut Ustad mughni mengagetkanku. Ternyata sandalnya terlempar jauh dari anak  tangga. Tanpa basa – basi, segera saja ku ambil sandal jepit sederhana itu lalu aku berikan pada Ustad Mughni dan berniat ingin cepat pergi juga, karena takut diceramahi.
“Terimakasih.” ucapnya, meskipun aku tak melihatnya, tetapi bisa ku rasakan bahwa ia tersenyum. Begitulah, Ustad Mughni memang terkenal sangat ramah dan baik sekali.
Sesegera mungkin ku balikkan badan dan segera beranjak pergi. Namun lagi – lagi Ustad Mughni mengehntikan langkahku.
“Kemarilah, kita mengobrol .. jangan terburu – buru begitu,”  Kenapa seorang Ustad yang baik hati ini inginkan mengobrol denganku, seorang remaja kotor?
Ada apa dengan diri ini, Kenapa aku tak bisa menolak ajakan itu?
“Sudah sholat?” tanya beliau dengan lembut dan mengajakku masuk kedalam masjid. Aku hanya tertunduk dan menggelengkan kepala perlahan. “waktu shubuh sudah mau habis, cepat ambil air wudhu, sholatlah dahulu .. baru kita mengobrol” . aku yang lupa tata cara sholat ini pun hanya terdiam mematung. “Kenapa diam saja, nak?” . “Sa .. Saya lupa car … caranya sholat, ustad” dengan amat gugup, akhirnya ku berani untuk jujur. Sang ustad hanya terkekeh. “Biar ku ajarkan” beliau merangkul pundakku dan mengajakku ke tempat wudhu.
                Dengan sangat sabar, ia mengajariku berwudhu, sholat, hingga adab berdo’a. pagi ini terasa sejuk sekali.
“Bagaimana hatimu sekarang?” tanya beliau duduk dihadapanku. Aku hanya tersenyum dan lagi – lagi menunduk.
“Nak, siapa namamu?” . “Karel” jawabku pelan.
“pas sekali dengan tampangmu” ustad mughni tersenyum lebar, mendengar itu akupun tersenyum.
“siapa ibu bapakmu? Kau tinggal dimana?” rasanya bingung untuk ku jawab, tetapi apa boleh buat? Jujur saja. “saya tinggal dijakarta tanpa orangtua, mereka ada dikampung” . seperti telah mengetahui, ustad mughni tak menunjukan ekspresi apapun. “Bagaimana caranya bisa sampai kesini?”
Aku pun mulai menceritakan perjalananku dari Cianjur sampai ke Jakarta.
                Ya.. dulu aku memanglah seorang anak baik – baik, tak jarang aku mendapat juara kelas, pengajian ini itu tak pernah ku tinggalkan, saat itu. tentu saja orangtuaku bangga, dan setelah kelulusan SD, orangtuaku menyuruhku untuk ikut bersama kakakku ke jar=karta, dengan harapan mendapat pendidikan yang lebih baik dikota besar ini. Tentu tak mudah bagiku hidup bersama seorang kakak yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, apalagi dia sangat keras kepala. Sampai suatu hari kami bertengkar hebat hanya karena masalah sepele, karena benar – benar muak aku pun pergi meninggalkan rumah kakak yang saat itu menjadi rumahku juga. Disitulah titik balik ku menjadi seorang pecundang, bertemu dengan Pereman bernama Jarot. Karena ku fikir mengambil hak orang itu mudah dan sangat menguntungkan, ditambah lagi dengan tampangku yang cukup tampan ini tak akan ada yang mengira bahwa aku ini adlaah si pencuri.
                “Apa kau tidak rindu dengan kedua orangtua mu, kakakmu?” tanya ustad setelah mencerna cerita panjangku.
“Tentu rindu, ustad”
“Pulanglah, sebelum kau terlena dan hancur dibuat oleh duniamu saat ini”
“Sa..saya malu untuk pulang, keluargaku pasti akan sangat marah padaku .. dan pastilah mengusirku”
“Tidak usah pesimis begitu, jika benar kau diusir, kembalilah kemari dan mari ustad akan menitipkanmu dipondok pesantren” .  mendengarnya aku hanya terdiam.
“Bagaimanapun mereka yang telah mengurusimu, orangtua menyayangimu dengan tulus, begitu pun dengan kakakmu .. pastilah pintu maaf terbuka lebar untukmu, nak Karel”
Aku tertegun mendengarnya, ucapan ustad itu ada benarnya juga.
                Akhirnya, pagi itu juga aku pulang ke rumah kakak. Namun tiada siapa – siapa disana, kufikir kakakku telah pindah rumah, ini pun memaksaku untuk pulang ke cianjur saja. Dengan bermodalkan ongkos yang diberi oleh ustad mughni, kurasa ini cukup.
Rasanya sebak rindu tak dapat ku tahan lagi. Langkahku pun semakin sigap dan cepat, tak jarang pula aku merengek pada sopir bus untuk menambah kecepatan laju busnya, namun yang kudapat hanyalah bentakan. “Mau cepat mati kau, ha?!”  Hahah .. aku tersenyum saja mendengarkan makian itu.
                Setelah perjalanan panjang, akhirnya aku pun sampai dikampung halamanku ini. Orang – orang memandangiku heran. Terkadang ada juga yang menyapa “Jang Karel ini teh?”  . “Ya Alloh, kemana aja atuh kasep? Pangling, meni kasep pisan”
Ternyata, baru 4 tahun ku meninggalkan kampung ini, sudah banyak yang berubah. Mungkin hanya rumahku saja yang tak berubah, tetap sederhana dan nampak bersih.
Pintu rumahku terbuka, banyak orang didalamnya. Memangnya ada apa?
“Permisi” aku mencoba menerobos kerumunan manusia yang memadati rumahku ini.
Segera saja ku cari ibu bapak ku. Kerumunan manusia itu memapahku menuju kamar. Kudapati disana ada kedua orangtuaku, juga kakakku. Mereka terlihat amat kaget atas kehadiranku.
Kakak dan ayahku mengomel dan berbicara entah apa itu, aku hanya terfokus pada ibuku yang tengah terbaring lemah menatapku dengan senyumannya. Segera saja ku peluk wanita tercinta itu dan menangis didekapnanya. Tangisanpun pecah, kedua orang tuaku dan kakak ku tak dapat membendung airmatanya.
Aku pun berlutut memeluk kaki bapakku dan memohon maaf, kulakukan juga pada kakakku. Lalu pandanganku beralih lagi pada ibu.
“Kami merindukanmu, nak”
Tiada kata lagi yang mampu ku ucap selain kata ‘ maaf’ .  “Sudahlah, tak apa .. terimakasih sudah kembali” ujar ibuku lirih, menahan sakit yang ia derita.
                Mereka pun mulai bertanya tentangku di Jakarta, tanpa pamrih aku pun menceritakan segala sesuatunya dengan jujur. Entah reaksi apa yang akan mereka tunjukan, yang penting ku berkata jujur. Habislah cerita, tak ada yang terucap. Hanya sisa – sisa isak tangis yang jelas terdengar. Tatap kami tertuju pada ibu yang tengah memandangi langit – lagit kamar yang tak terurus. Ini semua salahku ! ibu sakit seperti ini karena terus – menerus memikirkanku. Aku sangat menyesal. Aku kemabli terdiam dalam lamunku, tatapku kosong penuh penyesalan.
Seketika terdengar suara teriakan histeris dari kakakku . “ibuuu…” sontak aku pun kaget mendengarnya, segera ku alihkan pandangan pada ibuku. Tidak terjadi apa – apa, ibuku tetap cantik dengan senyum kecilnya, hanya saja matanya tertutup. Ia tertidur. Fikirku.
                Tetapi nyatanya tidak, aku sadar sekarang. Ibuku telah pergi, dan kepulangankulah yang mengantarkan kepulangan satu wanita yang tengah merindu itu .



Alhamdulillah, terimakasih telah membaca .. semoga bermanfaat :)





Rabu, 09 November 2016

Cerpen Islami - Seperti ikan

                                                  
 Assalamu'alaikum !!
  Apa Kabar readers? semoga sehat selalu .. di postingan kali ini, saya akan menuliskan sebuah cerpen nih! yang bercerita tentang susah-payahnya seorang siswi untuk berhijrah menjadi lebih baik.
sebenarnya ini sedikit kisah nyata dari kehidupan saya sih. Hihi .. langsung saja ya .. selamat membaca !

    
                                                     Image result for muslimah semangat anime

 SEPERTI IKAN



 “Udah putus sama pacar nih??” tanya salah seorang temanku yang baru saja tiba
“Iya” jawabku singkat tanpa menoleh sedikitpun. Aku hanya sibuk merasakan dinginnya angin malam. “Kenapa? Sayang lho dia kan artis, ya… walaupun gak terkenal sih” kali ini senyum ejekkan mengembang diwajah temanku yang berambut panjang ini. “Rasanya aku mau berubah jadi baik” jawabku dengan tatapan kosong. Seketika tawa pun menggema mengisi suasana malam yang sunyi ini “Hahaha… so’ banget, emang bisa?”.  “Bosan seperti ini terus, lagian selama pacaran aku tak mendapatkan apa – apa, hanya coklat yang membuatku sakit gigi dan bunga, kayak orang mati aja dikasih bunga mulu… and then, kurasa umurku belum pantas untuk pacaran, Baru 15 tahun,kan? Prestasi ku menurun drastis, tiap malam meringis, uang selalu habis” curhatku. “Din, sehat Din?” ia menempelkan punggung tangannya didahi-ku, langsung saja ku tepis tangan mulusnya itu “Ish apaan sih, Nisa !” . “Yaudahlah, terserah ya.. kamu mau berubah? Kufikir gak bisa” ujar Nisa disusul oleh tarikan nafas panjang nya. Aku hanya terdiam memikirkan semua perkataanku tadi. Apa benar aku bisa berubah menjadi lebih baik? Kembali mengenal Tuhan yang selama ini sengaja kulupakan? Apakah aku bisa?. Ah… Tak ada gunanya jika hanya berfikir, kenapa tidak langsung coba saja!. Aku pun memutuskan untuk pulang kerumah dan meninggalkan Nisa sendirian. “Pulang dulu ya” pamitku singkat.
    Sesampainya dirumah, kulangsung membaca – baca buku Agama sewaktu SD dulu. Walaupun sudah lama ku tidak membaca – bacaan sholat, tetapi aku masih mengingatnya. Segera ku ambil air wudhu dan mengerjakan sholat isya.
Tak pernah terfikir sebelumnya olehku. Seorang gadis bernama Dina ini akan kembali mengerjakan sholat. Rasanya sudah lama sekali ku melupakan kewajiban ini. Saat membaca Qur’an pun ku terbata – bata, padahal seharusnya orang seumuranku sudah lancar membacanya.
   Perjalanan hijrah-ku pun berawal dari sini. Berawal dari ku memutuskan untuk tidak berpacaran. Hari-hari  ku jalani dengan tidak melupakan sholat wajib, dan ku putuskan pula untuk memakai kerudung tidak hanya disekolah, tetapi juga saat keluar rumah.

Entah kenapa… Apa semua ini salah? Apa yang terjadi sehingga satu persatu temanku mulai menjauhiku? Sudah hampir dua bulan tak ada teman yang menghubungiku. Ketika bertemu pun tak ada kata yang terucap. Seolah – olah teman – temanku itu membenciku. Kenapa, apa salahku?. Ku terus saja memikirkannya dengan tatapan terfokus pada rintik – rintik hujan yang membasahi halaman rumahku. Apa harus aku kembali seperti dulu? Sebagai anak remaja yang jauh dari Tuhan-nya? Aku tak habis fikir, bukankah saat kita ingin berubah, Allah akan memberikan teman – teman yang baik untuk kita. Kenapa tidak denganku? Sekarang, aku sama sekali tak memiliki teman, teman yang baik ataupun tidak, mereka sama saja menjauhiku.
“Mikirin apa?” suara  mama seketika membuyarkan lamunanku. “A.. ah tidak” jawabku tersenyum. “Tumben gak pergi main? Kemana teman – temanmu?” tanya mama. “Bosan aja ma” jawabku berbohong. Mama-ku pun berlalu pergi dengan senyuman hangatnya. Aku hanya menatap nanar punggung mama-ku yang semakin menjauh dan hilang ditelan oleh ruang yang berbeda.
  
Semakin lama ku bertahan, rasanya semakin berat. Teman – teman menjauhiku, bahkan sampai mencelaku “So alim!” “Cie tobat…” “Awas – awas, mamah Dedeh mau lewat” . terus – terusan seperti ini kan aku jadi lelah ingin menyerah.  Tetapi tetap ku mencoba tuk bersabar.

    “Pak, bukankah kalo kita mau menjadi baik, kita akan punya teman baik?” tanyaku dengan penuh harap kepada salah seorang ustadz yang sekaligus guru ku disekolah
“Iya” jawabnya singkat. “Tidak denganku, Pak” balasku. “Memangnya kenapa?” tanya beliau. Aku hanya terdiam menunduk. “Berhijrah itu pelan – pelan” “Tidak usah rusuh untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, lama – lama teman yang kau harapkan pun akan datang tanpa diundang” nasihatnya. Aku pun hanya teridam mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh ustadz tersebut. “Allah Maha Mengetahui.. Dia mendengar semua do’a mu, tak mungkin diam saja. Sekali lagi, berhijrah itu pelan – pelan, dengan cara yang sangat lembut.. Kalau kamu berhijrah dengan terburu – buru, potensi kembali seperti dulu akan lebih besar.. Biarkan semuanya mengalir. Walaupun deras sungai yang kau lalui, jadilah ikan yang senantiasa tegar dan kuat melewati derasnya sungai itu.. Jangan seperti daun yang rapuh , ketika tertiup angin ia ikut terbawa terbang. Kau pun begitu, jangan cepat berubah fikiran ketika mendengar cemoohan teman-temanmu… Tunggu saja dengan sabar, tetapi jangan diam saja! Harus juga berusaha mencari teman – teman yang baik, coba carilah mereka dimajelis ilmu agama, dimasjid. Pasti ada”  lanjut beliau dengan panjang lebar. Sungguh nasihat yang menggetarkan hati.
Benar ! selama ini aku salah, kenapa aku hanya menunggu, bukan mencari?.
    Kebetulan disekolahku ada organisasi Dewan Keluarga Masjid, iseng. Kucoba ikut organisasi tersebut. Alhamdulillah, ternyata benar disinilah aku mendapatkan teman-teman yang baik. Bahkan mereka selalu menganggapku lebih baik dari mereka.
Hingga satu tahun pun berlalu, semakin senang ku mengikuti organisasi DKM, banyak pelajaran yang bisa kuterima. Tak jarang, ku sampaikan juga pada teman – teman sekelasku. Mereka pun mulai menerimanya, menerima hijrahku dengan baik. Ada juga yang ingin turut berhijrah menjadi lebih baik. Puji dan syukur tak henti ku ucapkan dari lisan ini dan menggema didalam hati.
    Hijrahku belum selesai, aku harus mampu ber-istiqomah dan mengajak teman-teman yang lain untuk berhijrah juga. Walaupun cemoohan itu masih sedikit terdengar, tetapi… Ah.. apa boleh buat, ku abaikan saja.
Semangat berhijrahku pun semakin menggebu – gebu. Kini aku sudah tak perduli lagi dengan perkataan orang lain. Aku hanya ingin berubah menjadi lebih baik. Itu saja.
Sosial media yang biasanya tempat curhatku pun kini ku jadikan sebagai media berdakwah. Walaupun Likers nya semakin menurun, tak apa. Bukan itu tujuan dan maksudku, bukan?

Sedikit – sedikit ku mulai tinggalkan kebiasaan tak bermanfaat. Tutur kata yang frontal, ku coba ubah dengan tutur kata yang baik, tawa yang menggelegar, coba kutahan.
Membagi ilmu yang ku miliki pada teman – teman di organisasi, dikelas dan dipengajian. Mengubah penampilanku, dari free hair menuju berkerudung walaupun terkesan gaul dan kekinian, lalu mengubahnya dengan kerudung sederhana, hingga jilbab yang menutupi aurat dengan sempurna.

Sungguh, benar. Berhijrah itu indah, istiqomah yang susah…
Tak jarang aku masih tertawa terbahak – bahak, berbicara kasar, atau bahkan mengakhirkan sholat. Tetapi harus tetap semangat untuk beristiqomah dalam kebaikan.
Benar, mungkin jika ku tak memiliki semangat juang seperti ikan, aku akan kembali seperti dulu. Kembali menjadi gadis yang menggilai dunia.
Sekarang kusadar, apapun yang tak didasari dengan niat dan semangat, hanya akan berakhir sia – sia. Tak usah perdulikan kata orang yang selalu berkomentar “Inilah – itulah”. Biarkan saja. Jangan sampai ucapan mereka itu menggugurkan semangat kita!




Terimakasih banyak telah menyempatkan waktu untuk membaca cerpen diblog ini .. semoga bermanfaat, jangan lupa komentarnya ya!!! :)
Wassalam

Fatimah Azzahra dan Gilingan gandum

                                                              Assalamu'alaikum ..
Apa kabar readers?  untuk postingan pertama ini, saya menuliskan kisah Fatimah Azzahra RA dan Gilingan gandum ..
baiklah, tanpa basa - basi, segera saja.. selamat membaca !
                                   Image result for fatimah az zahra dan gilingan gandum 




Fathimah az-zahra RA dan Gilingan Gandum
Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra RA. Didapatinya anandanya sedang menggiling “syair” (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". Fathimah RA. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis". Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah RA. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta Sayidina Ali (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah". Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau kemudian mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.
Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka kata sang penggilingan dalam bahasa Arab yang fasih: "ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "Bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.
Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.
Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.
Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit sebagai penghalang.
Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang.
Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.
Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu ialah Ridha Allah SWT dan kemarahannya itu ialah kemarahan Allah SWT?.
Ya Fathimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.
Ya Fathimah, Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.
Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat.
Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang".
Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".


Semoga bermanfaat ..
Wassalam :)