Assalamu'alaikum !!
Apa Kabar readers? semoga sehat selalu .. di postingan kali ini, saya akan menuliskan sebuah cerpen nih! yang bercerita tentang susah-payahnya seorang siswi untuk berhijrah menjadi lebih baik.
sebenarnya ini sedikit kisah nyata dari kehidupan saya sih. Hihi .. langsung saja ya .. selamat membaca !

SEPERTI IKAN
“Udah putus sama pacar nih??” tanya salah
seorang temanku yang baru saja tiba
“Iya” jawabku singkat
tanpa menoleh sedikitpun. Aku hanya sibuk merasakan dinginnya angin malam. “Kenapa?
Sayang lho dia kan artis, ya… walaupun gak terkenal sih” kali ini senyum
ejekkan mengembang diwajah temanku yang berambut panjang ini. “Rasanya aku mau
berubah jadi baik” jawabku dengan tatapan kosong. Seketika tawa pun menggema
mengisi suasana malam yang sunyi ini “Hahaha… so’ banget, emang bisa?”. “Bosan seperti ini terus, lagian selama
pacaran aku tak mendapatkan apa – apa, hanya coklat yang membuatku sakit gigi
dan bunga, kayak orang mati aja dikasih bunga mulu… and then, kurasa umurku belum pantas untuk pacaran, Baru 15
tahun,kan? Prestasi ku menurun drastis, tiap malam meringis, uang selalu habis”
curhatku. “Din, sehat Din?” ia menempelkan punggung tangannya didahi-ku,
langsung saja ku tepis tangan mulusnya itu “Ish apaan sih, Nisa !” . “Yaudahlah,
terserah ya.. kamu mau berubah? Kufikir gak bisa” ujar Nisa disusul oleh
tarikan nafas panjang nya. Aku hanya terdiam memikirkan semua perkataanku tadi.
Apa benar aku bisa berubah menjadi lebih baik? Kembali mengenal Tuhan yang
selama ini sengaja kulupakan? Apakah aku bisa?. Ah… Tak ada gunanya jika hanya
berfikir, kenapa tidak langsung coba saja!. Aku pun memutuskan untuk pulang
kerumah dan meninggalkan Nisa sendirian. “Pulang dulu ya” pamitku singkat.
Sesampainya dirumah, kulangsung membaca –
baca buku Agama sewaktu SD dulu. Walaupun sudah lama ku tidak membaca – bacaan
sholat, tetapi aku masih mengingatnya. Segera ku ambil air wudhu dan
mengerjakan sholat isya.
Tak pernah terfikir
sebelumnya olehku. Seorang gadis bernama Dina ini akan kembali mengerjakan
sholat. Rasanya sudah lama sekali ku melupakan kewajiban ini. Saat membaca
Qur’an pun ku terbata – bata, padahal seharusnya orang seumuranku sudah lancar
membacanya.
Perjalanan hijrah-ku pun berawal dari sini.
Berawal dari ku memutuskan untuk tidak berpacaran. Hari-hari ku jalani dengan tidak melupakan sholat wajib,
dan ku putuskan pula untuk memakai kerudung tidak hanya disekolah, tetapi juga
saat keluar rumah.
Entah kenapa… Apa semua
ini salah? Apa yang terjadi sehingga satu persatu temanku mulai menjauhiku?
Sudah hampir dua bulan tak ada teman yang menghubungiku. Ketika bertemu pun tak
ada kata yang terucap. Seolah – olah teman – temanku itu membenciku. Kenapa,
apa salahku?. Ku terus saja memikirkannya dengan tatapan terfokus pada rintik –
rintik hujan yang membasahi halaman rumahku. Apa harus aku kembali seperti
dulu? Sebagai anak remaja yang jauh dari Tuhan-nya? Aku tak habis fikir,
bukankah saat kita ingin berubah, Allah akan memberikan teman – teman yang baik
untuk kita. Kenapa tidak denganku? Sekarang, aku sama sekali tak memiliki
teman, teman yang baik ataupun tidak, mereka sama saja menjauhiku.
“Mikirin apa?”
suara mama seketika membuyarkan
lamunanku. “A.. ah tidak” jawabku tersenyum. “Tumben gak pergi main? Kemana teman
– temanmu?” tanya mama. “Bosan aja ma” jawabku berbohong. Mama-ku pun berlalu
pergi dengan senyuman hangatnya. Aku hanya menatap nanar punggung mama-ku yang
semakin menjauh dan hilang ditelan oleh ruang yang berbeda.
Semakin lama ku
bertahan, rasanya semakin berat. Teman – teman menjauhiku, bahkan sampai
mencelaku “So alim!” “Cie tobat…” “Awas – awas, mamah Dedeh mau lewat” . terus
– terusan seperti ini kan aku jadi lelah ingin menyerah. Tetapi tetap ku mencoba tuk bersabar.
“Pak, bukankah kalo kita mau menjadi baik,
kita akan punya teman baik?” tanyaku dengan penuh harap kepada salah seorang
ustadz yang sekaligus guru ku disekolah
“Iya” jawabnya singkat.
“Tidak denganku, Pak” balasku. “Memangnya kenapa?” tanya beliau. Aku hanya
terdiam menunduk. “Berhijrah itu pelan – pelan” “Tidak usah rusuh untuk
mendapatkan apa yang kita inginkan, lama – lama teman yang kau harapkan pun
akan datang tanpa diundang” nasihatnya. Aku pun hanya teridam mencerna setiap
kata yang dilontarkan oleh ustadz tersebut. “Allah Maha Mengetahui.. Dia
mendengar semua do’a mu, tak mungkin diam saja. Sekali lagi, berhijrah itu
pelan – pelan, dengan cara yang sangat lembut.. Kalau kamu berhijrah dengan
terburu – buru, potensi kembali seperti dulu akan lebih besar.. Biarkan
semuanya mengalir. Walaupun deras sungai yang kau lalui, jadilah ikan yang
senantiasa tegar dan kuat melewati derasnya sungai itu.. Jangan seperti daun
yang rapuh , ketika tertiup angin ia ikut terbawa terbang. Kau pun begitu,
jangan cepat berubah fikiran ketika mendengar cemoohan teman-temanmu… Tunggu
saja dengan sabar, tetapi jangan diam saja! Harus juga berusaha mencari teman –
teman yang baik, coba carilah mereka dimajelis ilmu agama, dimasjid. Pasti ada”
lanjut beliau dengan panjang lebar.
Sungguh nasihat yang menggetarkan hati.
Benar ! selama ini aku
salah, kenapa aku hanya menunggu, bukan mencari?.
Kebetulan disekolahku ada organisasi Dewan
Keluarga Masjid, iseng. Kucoba ikut organisasi tersebut. Alhamdulillah,
ternyata benar disinilah aku mendapatkan teman-teman yang baik. Bahkan mereka selalu
menganggapku lebih baik dari mereka.
Hingga satu tahun pun
berlalu, semakin senang ku mengikuti organisasi DKM, banyak pelajaran yang bisa
kuterima. Tak jarang, ku sampaikan juga pada teman – teman sekelasku. Mereka
pun mulai menerimanya, menerima hijrahku dengan baik. Ada juga yang ingin turut
berhijrah menjadi lebih baik. Puji dan syukur tak henti ku ucapkan dari lisan
ini dan menggema didalam hati.
Hijrahku belum selesai, aku harus mampu
ber-istiqomah dan mengajak teman-teman yang lain untuk berhijrah juga. Walaupun
cemoohan itu masih sedikit terdengar, tetapi… Ah.. apa boleh buat, ku abaikan
saja.
Semangat berhijrahku
pun semakin menggebu – gebu. Kini aku sudah tak perduli lagi dengan perkataan
orang lain. Aku hanya ingin berubah menjadi lebih baik. Itu saja.
Sosial media yang
biasanya tempat curhatku pun kini ku jadikan sebagai media berdakwah. Walaupun Likers nya semakin menurun, tak apa.
Bukan itu tujuan dan maksudku, bukan?
Sedikit – sedikit ku
mulai tinggalkan kebiasaan tak bermanfaat. Tutur kata yang frontal, ku coba ubah dengan tutur kata yang baik, tawa yang
menggelegar, coba kutahan.
Membagi ilmu yang ku
miliki pada teman – teman di organisasi, dikelas dan dipengajian. Mengubah
penampilanku, dari free hair menuju
berkerudung walaupun terkesan gaul dan kekinian, lalu mengubahnya dengan
kerudung sederhana, hingga jilbab yang menutupi aurat dengan sempurna.
Sungguh, benar.
Berhijrah itu indah, istiqomah yang susah…
Tak jarang aku masih
tertawa terbahak – bahak, berbicara kasar, atau bahkan mengakhirkan sholat.
Tetapi harus tetap semangat untuk beristiqomah dalam kebaikan.
Benar, mungkin jika ku
tak memiliki semangat juang seperti ikan, aku akan kembali seperti dulu.
Kembali menjadi gadis yang menggilai dunia.
Sekarang kusadar,
apapun yang tak didasari dengan niat dan semangat, hanya akan berakhir sia –
sia. Tak usah perdulikan kata orang yang selalu berkomentar “Inilah – itulah”.
Biarkan saja. Jangan sampai ucapan mereka itu menggugurkan semangat kita!
Terimakasih banyak telah menyempatkan waktu untuk membaca cerpen diblog ini .. semoga bermanfaat, jangan lupa komentarnya ya!!! :)
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar