Rabu, 09 November 2016

Cerpen Islami - Seperti ikan

                                                  
 Assalamu'alaikum !!
  Apa Kabar readers? semoga sehat selalu .. di postingan kali ini, saya akan menuliskan sebuah cerpen nih! yang bercerita tentang susah-payahnya seorang siswi untuk berhijrah menjadi lebih baik.
sebenarnya ini sedikit kisah nyata dari kehidupan saya sih. Hihi .. langsung saja ya .. selamat membaca !

    
                                                     Image result for muslimah semangat anime

 SEPERTI IKAN



 “Udah putus sama pacar nih??” tanya salah seorang temanku yang baru saja tiba
“Iya” jawabku singkat tanpa menoleh sedikitpun. Aku hanya sibuk merasakan dinginnya angin malam. “Kenapa? Sayang lho dia kan artis, ya… walaupun gak terkenal sih” kali ini senyum ejekkan mengembang diwajah temanku yang berambut panjang ini. “Rasanya aku mau berubah jadi baik” jawabku dengan tatapan kosong. Seketika tawa pun menggema mengisi suasana malam yang sunyi ini “Hahaha… so’ banget, emang bisa?”.  “Bosan seperti ini terus, lagian selama pacaran aku tak mendapatkan apa – apa, hanya coklat yang membuatku sakit gigi dan bunga, kayak orang mati aja dikasih bunga mulu… and then, kurasa umurku belum pantas untuk pacaran, Baru 15 tahun,kan? Prestasi ku menurun drastis, tiap malam meringis, uang selalu habis” curhatku. “Din, sehat Din?” ia menempelkan punggung tangannya didahi-ku, langsung saja ku tepis tangan mulusnya itu “Ish apaan sih, Nisa !” . “Yaudahlah, terserah ya.. kamu mau berubah? Kufikir gak bisa” ujar Nisa disusul oleh tarikan nafas panjang nya. Aku hanya terdiam memikirkan semua perkataanku tadi. Apa benar aku bisa berubah menjadi lebih baik? Kembali mengenal Tuhan yang selama ini sengaja kulupakan? Apakah aku bisa?. Ah… Tak ada gunanya jika hanya berfikir, kenapa tidak langsung coba saja!. Aku pun memutuskan untuk pulang kerumah dan meninggalkan Nisa sendirian. “Pulang dulu ya” pamitku singkat.
    Sesampainya dirumah, kulangsung membaca – baca buku Agama sewaktu SD dulu. Walaupun sudah lama ku tidak membaca – bacaan sholat, tetapi aku masih mengingatnya. Segera ku ambil air wudhu dan mengerjakan sholat isya.
Tak pernah terfikir sebelumnya olehku. Seorang gadis bernama Dina ini akan kembali mengerjakan sholat. Rasanya sudah lama sekali ku melupakan kewajiban ini. Saat membaca Qur’an pun ku terbata – bata, padahal seharusnya orang seumuranku sudah lancar membacanya.
   Perjalanan hijrah-ku pun berawal dari sini. Berawal dari ku memutuskan untuk tidak berpacaran. Hari-hari  ku jalani dengan tidak melupakan sholat wajib, dan ku putuskan pula untuk memakai kerudung tidak hanya disekolah, tetapi juga saat keluar rumah.

Entah kenapa… Apa semua ini salah? Apa yang terjadi sehingga satu persatu temanku mulai menjauhiku? Sudah hampir dua bulan tak ada teman yang menghubungiku. Ketika bertemu pun tak ada kata yang terucap. Seolah – olah teman – temanku itu membenciku. Kenapa, apa salahku?. Ku terus saja memikirkannya dengan tatapan terfokus pada rintik – rintik hujan yang membasahi halaman rumahku. Apa harus aku kembali seperti dulu? Sebagai anak remaja yang jauh dari Tuhan-nya? Aku tak habis fikir, bukankah saat kita ingin berubah, Allah akan memberikan teman – teman yang baik untuk kita. Kenapa tidak denganku? Sekarang, aku sama sekali tak memiliki teman, teman yang baik ataupun tidak, mereka sama saja menjauhiku.
“Mikirin apa?” suara  mama seketika membuyarkan lamunanku. “A.. ah tidak” jawabku tersenyum. “Tumben gak pergi main? Kemana teman – temanmu?” tanya mama. “Bosan aja ma” jawabku berbohong. Mama-ku pun berlalu pergi dengan senyuman hangatnya. Aku hanya menatap nanar punggung mama-ku yang semakin menjauh dan hilang ditelan oleh ruang yang berbeda.
  
Semakin lama ku bertahan, rasanya semakin berat. Teman – teman menjauhiku, bahkan sampai mencelaku “So alim!” “Cie tobat…” “Awas – awas, mamah Dedeh mau lewat” . terus – terusan seperti ini kan aku jadi lelah ingin menyerah.  Tetapi tetap ku mencoba tuk bersabar.

    “Pak, bukankah kalo kita mau menjadi baik, kita akan punya teman baik?” tanyaku dengan penuh harap kepada salah seorang ustadz yang sekaligus guru ku disekolah
“Iya” jawabnya singkat. “Tidak denganku, Pak” balasku. “Memangnya kenapa?” tanya beliau. Aku hanya terdiam menunduk. “Berhijrah itu pelan – pelan” “Tidak usah rusuh untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, lama – lama teman yang kau harapkan pun akan datang tanpa diundang” nasihatnya. Aku pun hanya teridam mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh ustadz tersebut. “Allah Maha Mengetahui.. Dia mendengar semua do’a mu, tak mungkin diam saja. Sekali lagi, berhijrah itu pelan – pelan, dengan cara yang sangat lembut.. Kalau kamu berhijrah dengan terburu – buru, potensi kembali seperti dulu akan lebih besar.. Biarkan semuanya mengalir. Walaupun deras sungai yang kau lalui, jadilah ikan yang senantiasa tegar dan kuat melewati derasnya sungai itu.. Jangan seperti daun yang rapuh , ketika tertiup angin ia ikut terbawa terbang. Kau pun begitu, jangan cepat berubah fikiran ketika mendengar cemoohan teman-temanmu… Tunggu saja dengan sabar, tetapi jangan diam saja! Harus juga berusaha mencari teman – teman yang baik, coba carilah mereka dimajelis ilmu agama, dimasjid. Pasti ada”  lanjut beliau dengan panjang lebar. Sungguh nasihat yang menggetarkan hati.
Benar ! selama ini aku salah, kenapa aku hanya menunggu, bukan mencari?.
    Kebetulan disekolahku ada organisasi Dewan Keluarga Masjid, iseng. Kucoba ikut organisasi tersebut. Alhamdulillah, ternyata benar disinilah aku mendapatkan teman-teman yang baik. Bahkan mereka selalu menganggapku lebih baik dari mereka.
Hingga satu tahun pun berlalu, semakin senang ku mengikuti organisasi DKM, banyak pelajaran yang bisa kuterima. Tak jarang, ku sampaikan juga pada teman – teman sekelasku. Mereka pun mulai menerimanya, menerima hijrahku dengan baik. Ada juga yang ingin turut berhijrah menjadi lebih baik. Puji dan syukur tak henti ku ucapkan dari lisan ini dan menggema didalam hati.
    Hijrahku belum selesai, aku harus mampu ber-istiqomah dan mengajak teman-teman yang lain untuk berhijrah juga. Walaupun cemoohan itu masih sedikit terdengar, tetapi… Ah.. apa boleh buat, ku abaikan saja.
Semangat berhijrahku pun semakin menggebu – gebu. Kini aku sudah tak perduli lagi dengan perkataan orang lain. Aku hanya ingin berubah menjadi lebih baik. Itu saja.
Sosial media yang biasanya tempat curhatku pun kini ku jadikan sebagai media berdakwah. Walaupun Likers nya semakin menurun, tak apa. Bukan itu tujuan dan maksudku, bukan?

Sedikit – sedikit ku mulai tinggalkan kebiasaan tak bermanfaat. Tutur kata yang frontal, ku coba ubah dengan tutur kata yang baik, tawa yang menggelegar, coba kutahan.
Membagi ilmu yang ku miliki pada teman – teman di organisasi, dikelas dan dipengajian. Mengubah penampilanku, dari free hair menuju berkerudung walaupun terkesan gaul dan kekinian, lalu mengubahnya dengan kerudung sederhana, hingga jilbab yang menutupi aurat dengan sempurna.

Sungguh, benar. Berhijrah itu indah, istiqomah yang susah…
Tak jarang aku masih tertawa terbahak – bahak, berbicara kasar, atau bahkan mengakhirkan sholat. Tetapi harus tetap semangat untuk beristiqomah dalam kebaikan.
Benar, mungkin jika ku tak memiliki semangat juang seperti ikan, aku akan kembali seperti dulu. Kembali menjadi gadis yang menggilai dunia.
Sekarang kusadar, apapun yang tak didasari dengan niat dan semangat, hanya akan berakhir sia – sia. Tak usah perdulikan kata orang yang selalu berkomentar “Inilah – itulah”. Biarkan saja. Jangan sampai ucapan mereka itu menggugurkan semangat kita!




Terimakasih banyak telah menyempatkan waktu untuk membaca cerpen diblog ini .. semoga bermanfaat, jangan lupa komentarnya ya!!! :)
Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar